Featured Post

Resensi Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas





Filsafat Seksual

Oleh : Darul Azis*

Kehidupan manusia hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalankan saja (Hal. 189)



 
         



          Itulah kerangka besar yang dapat saya tangkap setelah membaca Novel Eka Kurniawan berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (GPU, 2014). Novel yang mengisahkan lika-liku kehidupan (baca : penderitaan) seorang laki-laki impoten bernama Ajo Kawir. Penyakit paling memalukan (bagi para laki-laki) itu datang pertama kali ketika Ajo Kawir dan sahabatnya, Si Tokek, terpergok mengintip aksi pemerkosaan janda muda gila oleh dua orang polisi di sebuah rumah. Ketahuan diintip anak-anak, kedua polisi itu pun berang, Ajo Kawir dan Si Tokek berusaha kabur. Nahas, Ajo Kawir tersergap polisi bejat itu, lantas ia pun dipaksa menyaksikan perbuatan amoral itu dari dekat, tanpa harus mengintip lagi. Sejak saat itu, kemaluan Ajo Kawir tak lagi bisa bangun, walau berbagai macam “cara” sudah ditempuhnya.

            Tak ada yang lebih menderitakan bagi seorang laki-laki kecuali penyakit impoten, apalagi penyakit sebagaimana dialami Ajo Kawir, akut. Syahdan, karena putus asa, ia tumbuh menjadi pemuda yang bengal, gemar berkelahi dan sering membuat keributan, mabuk-mabukkan hingga kemudian menerima tawaran untuk membunuh Si Macan, seorang gembong yang amat brutal. 

            Mulanya niat untuk menjadi pembunuh bayaran itu surut ketika Ajo Kawir menikah dengan Iteung, berniat membentuk sebuah keluarga yang bahagia –masih dengan penyakit impoten yang jauh dari kata sembuh. Hanya saja takdir berkata lain, Iteung diketahui hamil dan hal tersebut membuat Ajo Kawir murka. Ia pergi meninggalkan Iteung, untuk melampiaskan kemarahannya itu, ia membunuh Si Macan, meski harus berakhir di penjara. 

Tak dinyana, penjara dan penyakit impoten yang dideritanya bertahun-tahun itu mengubah dirinya menjadi seorang yang sangat bijak, tak macam-macam, tak mau berkelahi, apalagi membunuh lagi orang. Ajo Kawir memilih untuk menempuh jalan sunyi dan damai dari hingar bingar nafsu kelamin disamping pekerjaannya sebagai supir truk.

Membaca novel ini, kita akan menemukan beberapa keistimewaan yang selama ini jarang diangkat oleh novelis Indonesia. Pertama, penulis berhasil meramu seksualitas menjadi sebuah ajaran filosofis keagamaan yang amat tinggi (sufisme seksual). Darinya, mata batin kita akan terbuka lebar menatap kehidupan kita yang terlalu ramai dengan keliaran nafsu seksual, yang kemudian turut menyuburkan tumbuhnya nafsu keserakahan, materialis, hedonis, kapitalis, dan hilangnya rasa kemanusiaan kita. 

Kedua, penyakit impoten akut yang diderita Ajo Kawir dikemas penulis sebagai sebuah ujian (penantian, kesetiaan, ketabahan, dan kerinduan) untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih konkrit -untuk belum dikatakan kekal. Dan, jika kita bersedia berpikir lebih imani,  kehidupan di dunia ini (yang diilustrasikan Eka Kurniawan melalui penyakit impoten) merupakan ujian ketabahan bagi para penanti dan perindu kehidupan yang lebih membahagikan lagi kekal, yakni akhirat. Ketika kita berhasil menjalani kehidupan yang demikian itu –tak melulu memperturutkan nafsu- maka segala bentuk ujian pasti akan dapat kita taklukkan. Termasuk tatkala ujian yang telah kita jalani dengan tabah itu tak jua bebuah manis, sebagaimana yang tersurat dalam akhir novel ini.

Comments