Jadi Konsumen Cerdas di Era Digital itu Tidak Berat, Kita Pasti Bisa


Konsumen Cerdas di Era Digital
Perlindungan bagi konsumen [Ilustrasi: CitizenMatters]

Priamuda.com ~ Beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia digegerkan oleh isu peredaran telur palsu. Isu tersebut meluas seiring dengan viralnya sebuah video berdurasi 02.38 menit yang memperlihatkan Syahroni B Daud (49) sedang menerangkan kalau telur yang didapatkan anaknya dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) merupakan telur palsu.

Banyak yang percaya dengan isu tersebut, namun banyak juga yang secara tegas menolak untuk percaya. Sehingga kemudian pembicaraan di media sosial menjadi ramai oleh perdebatan tentang telur palsu. Setelah aparat kepolisian mengusutnya, barulah benar-benar diketahui bahwa isu telur palsu merupakan kabar bohong alias hoaks [1].

Setelah isu telur palsu mereda, kemudian muncul isu baru lagi. Yakni soal peredaran ikan sarden kaleng yang mengandung cacing. Berbeda dengan isu sebelumnya, kali ini ternyata kabar tersebut benar adanya. Temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menegaskan hal tersebut. Sebanyak 27 merek ikan sarden kalengan positif mengandung parasit cacing atau cacing jenis Anisakis Sp. Produk ikan sarden kalengan yang mengandung cacing itu pertama kali ditemukan di Riau [2].

Langkah sigap BPOM dalam menindaklanjuti kasus tersebut patut diapresiasi. BPOM segera menarik produk-produk tersebut dari peredaran. Meskipun kabar tersebut beredar luas dan sempat membuat masyarakat gelisah sebagaimana kasus telur palsu, namun langkah sigap BPOM cukup memberikan efek ketenangan bagi masyarakat.

Dua contoh kasus di atas merupakan fenomena betapa masih rendahnya literasi konsumen di Indonesia; begitu mudah terbawa informasi-informasi yang belum jelas kebenarannya dan menjadi panik karenanya. Isu telur palsu kemarin dikabarkan membawa dampak yang sangat besar. Omset penjualan para pedagang turun hingga 40 persen [3].

Namun di sisi lain, dua contoh kasus di atas juga menunjukkan betapa sangat pentingnya perlindungan bagi konsumen. Baik dari informasi-informasi yang menyesatkan maupun dari produk-produk yang tidak layak edar. Apalagi jika melihat kondisi saat ini di mana kesadaran masyarakat akan hak-haknya sebagai konsumen masih sangat rendah. Bahkan yang sudah paham pun tidak sedikit yang kemudian enggan mengadukan permasalahannya [4].

Posisi Konsumen-Pelaku Usaha Harus Seimbang

Pada era globalisasi seperti sekarang ini, posisi konsumen cenderung lebih lemah dibandingkan dengan para pelaku usaha, baik secara ekonomis maupun kekuasaan. Sekarang ini para pelaku usaha dapat bersaing dengan begitu bebasnya untuk memperebutkan hati pelanggan.

Pelaku dan konsumen seharusnya berada dalam posisi yang sejajar [Ilustrasi: Researchgate.net]


Berbagai macam strategi dan taktik pemasaran mereka tempuh demi dapat menguasai pasar. Termasuk dalam hal ini cara-cara yang curang seperti penyesatan informasi melalui iklan, label, metode pembayaran, dan lain sebagainya. Sementara kondisi tersebut tidak diimbangi dengan literasi hak-hak dan kewajiban konsumen. Konsumen hanya menjadi sasaran pasar bagi para pelaku usaha dengan segenap risiko besar yang mengintainya setiap saat.

Apabila hal itu dibiarkan terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin akan terjadi ketimpangan yang tinggi antara para pelaku usaha dan konsumen. Konsumen akan menjadi pihak yang paling dirugikan karena tidak mendapatkan hak-haknya. Inilah alasan mengapa konsumen perlu terus diadvokasi dan dan dilindungi hak-haknya.

Di Indonesia sebenarnya sudah terdapat perangkat hukum yang menjamin hal tersebut, yakni Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Menurut Undang-undang ini, beberapa upaya perlindungan konsumen meliputi peningkatan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri dan peningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya.

Menurut Undang-undang ini pula, hak-hak konsumen meliputi:
  • Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  • Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa; 
  • Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan; 
  • Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut; 
  • Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; 
  • Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; 
  • Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; 
  • Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Hak-hak konsumen [Ilustrasi Bapenas]

Sementara selain mempunyai hak-hak di atas, konsumen juga memiliki kewajiban antara lain:
  • Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
  •  Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
  •  Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
  •  Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut. 
Tak hanya berhenti sampai di situ, upaya perlindungan terhadap konsumen juga diperkuat oleh kewajiban bagi para pelaku usaha di antaranya sebagai berikut:
  • Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
  • Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;
  • Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  • Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
  • Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;
  • Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
  • Memberi kmpensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Setelah melihat banyaknya hak-hak dan kewajiban konsumen serta hak pelaku usaha tersebut di atas, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah: apakah pemahaman terhadap hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha tersebut sudah dipahami dengan baik?

Jawabannya: belum.

Di Yogyakarta saja yang notabene merupakan kota pelajar kesadaran konsumen masih sangat rendah. YLKI menyebut tingginya konsumsi di kota ini tidak diiringi dengan daya kritis terhadap produk [5].
Hal ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama karena biar bagaimanapun pemahaman konsumen terhadap hak-hak dan kewajibannya akan menjadi penentu berimbangnya posisi antara konsumen dengan pelaku usaha.

Untuk itu kiranya, upaya sosialisasi tentang hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, para pelaku usaha, YLKI, dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat di Indonesia agar konsumen dan pelaku usaha dapat berjalan beriringan dalam hubungan yang saling menguntungkan, bukan sebaliknya.


Zaman terus bergerak maju dan teknologi semakin canggih. Kini penjualan suatu produk/jasa tidak hanya dilakukan secara konvensional melainkan juga telah dilakukan secara online. Seiring dengan itu, praktik penipuan pun juga kerap terjadi dalam jual beli online.

Namun meski demikian di saat yang sama, dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, media sosial misalnya, kini konsumen juga dapat mengungkapkan keluhannya secara terbuka. Di zaman digital ini penyampaian keluhan kini tidak hanya bergantung pada media massa atau Layanan Pelanggan. 

Bahkan dalam beberapa kasus, keluhan di media sosial terbukti lebih ampuh ketimbang media lain. Media sosial terbukti lebih efektif untuk menjadi media penyampaian praktik penipuan, aspirasi, dan keluhan atas ketidaksesuaian layanan/produk sebagaimana telah dijanjikan oleh pelaku usaha. Selama keluhan disampaikan dengan jujur dan didukung oleh fakta dan data-data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

Di samping itu, kehadiran e-dagang juga memberikan dampak yang cukup signifikan karena di sana konsumen dapat langsung memberikan ulasan dan kesannya secara langsung dan jujur setelah barang pesanannya diterima. Pada platform ini, posisi konsumen dan penjual dapat dikatakan sudah cukup seimbang. 

Pada situs e-dagang seperti Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Lazada misalnya, konsumen memiliki peran yang sangat kuat dalam mengontrol para pelaku usaha selaku penjual melalui rating yang diberikan. Semakin baik rating yang didapatkan toko, maka akan semakin ramai pulalah pesanan pada toko tersebut karena telah terbukti sebagai toko yang terpercaya.

Rating menentukan omset [ilustrasi via Hisense]

Begitu juga dengan, misalnya, penggunaan transportasi online seperti Gojek. Di sini, pengguna dapat langsung memberikan reward and punishment kepada driver selaku penyedia jasa. Sehingga hukum "siapa yang menanam pasti akan memanen" pun menjadi berlaku. Pelaku usaha benar-benar dituntut untuk dapat memberikan yang terbaik bagi konsumennya, sebab kalau tidak demikian mereka akan tumbang sendiri.

Dari sinilah kiranya upaya penguatan peran konsumen di era digital dapat dilakukan. Yakni disediakannya bermacam akses dan sarana bagi konsumen untuk memberikan respon atas produk atau layanan yang diterimanya secara langsung. Dengan tersedianya berbagai macam sarana dan akses tersebut, maka konsumen di Indonesia akan memiliki posisi yang kuat, setara dengan para pelaku usaha.

Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

Sambil terus menunggu dan memanfaatkan berbagai macam akses yang tersedia saat ini, menjadi konsumen yang cerdas dan kritis terhadap produk yang kita beli juga bisa dilakukan dengan cara lain.

Berikut ini beberapa hal yang biasa saya lakukan sebelum membeli barang atau memilih layanan.

1. Sesuai kebutuhan

Membeli barang atau memilih layanan jasa, bagi saya merupakan sesuatu hal yang sangat prinsip. Oleh karena itu, keduanya selalu saya lakukan berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan semata. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan pun, sering kali masih saya tetapkan lagi apakah itu merupakan kebutuhan mendesak atau bukan. Jika mendesak maka harus segera dipenuhi, jika tidak maka masih bisa ditunda esok hari.

2. Mencari testimoni terlebih dahulu

Karena tak mau salah beli/pilih layanan jasa, maka mencari testimoni orang lain selalu saya lakukan sebelum kemudian menetapkan pilihan.

Cara ini sangat berguna untuk meminimalisasi risiko salah beli, ketidakcocokan, atau penipuan. Dengan adanya teknologi informasi seperti sekarang ini, maka saya biasanya saya Googling terlebih dahulu dan membaca berbagai macam testimoni atas produk/layanan jasa yang sedang saya ingin tahu. Atau jika produk/layanan jasa yang akan saya butuhkan pernah dibeli/dipakai oleh orang yang saya kenal, maka saya akan menanyakan langsung kepada yang bersangkutan untuk meminta testimoni.

3. Membeli dalam keadaan kenyang

Saya mengetahui trik ini ketika diminta seorang teman wanita saya untuk menemaninya membeli suatu barang. Sebelum masuk ke toko, ia mengajak saya untuk makan terlebih dahulu.

"Jangan membeli barang ketika lapar. Belilah barang ketika perut sudah terisi." katanya.
"Kenapa?" tanya saya saat itu karena benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.
"Ketika perut sedang lapar, maka biasanya kita akan terburu-buru dan emosional. Berbeda ketika perut sudah kenyang, maka kita akan cenderung lebih tenang dan rasional." jelasnya. Saya mengangguk tanda mengerti dan pesan itu sampai sekarang terus saya ingat dan saya terapkan.

Alhasil, saya tidak pernah kalap dalam membeli barang. Alhamdulillah!

4. Rajin Membaca dan Meneliti

Perintah pertama dalam Al-Quran yang disampaikan kepada Nabi Muhammad adalah membaca. Hal ini juga selalu saya terapkan ketika akan membeli barang/memilih layanan jasa. Karena di samping untuk keperluan keamanan dan kenyanan, saya sendiri memang tipe orang yang cukup gemar membaca atau bisa disebut kepo. Apalagi jika produk/layanan jasa tersebut tergolong baru dan unik bagi saya. Maka tingkat keingintahuan pun akan menjadi lebih tinggi.

Sering kali hal pertama yang saya baca adalah perusahaan mana yang memproduksi, di mana diproduksinya, kontak yang bisa dihubungi, baru kemudian tentang kapan barang tersebut akan kadaluarsa, apakah halal dan aman atau tidak.

Sampai di sini, saya merasa sangat bersyukur karena kegemaran membaca itulah saya banyak mendapatkan informasi dan inspirasi mengenai produk yang saya beli. Juga karena itu pula, saya tidak pernah keracunan makanan apa pun. Kecuali malah kripik jengkol buatan ibu saya sendiri. haha

Karena rajin membaca pula saya jadi sering menemukan banyak hal dari produk/layanan jasa, mulai dari permainan kata-katanya, kaidah bahasanya, merk, logo, tagline, dan permainan harga dan diskon yang mereka lakukan. Sering kali apa yang mereka lakukan juga lucu-lucu. Menemukannya, merupakan keasyikan tersendiri bagi saya. Haha

5.  Menjalin Hubungan Baik dengan Penjual

Meski hidup di era dunia dalam genggaman, sampai saat ini saya masih termasuk sebagai tipe pembeli "Yang Kalau Tidak Memegang Barangnya Tidak Marem" alias pembeli offline.  Saya belum pernah membeli barang secara online, kecuali pulsa internet. Maka dari itu, saya punya cukup banyak langganan penjual untuk masing-masing barang kebutuhan saya.

Memiliki hubungan baik dengan penjual, bagi saya, merupakan salah satu cara paling aman ketika akan membeli barang/jasa. Apabila penjual sudah kenal baik dengan kita, maka biasanya mereka juga akan lebih respect terhadap kita. Tidak akan memberikan barang yang buruk kualitasnya. Tidak menetapkan harga yang tinggi. Mereka tidak akan menipu kita. Malahan mereka tidak akan sungkan-sungkan untuk memberikan diskon atau bahkan memberikan utang kepada kita.

Sejauh ini, kelima cara di atas cukup efektif dalam melindungi diri saya dari segala macam bentuk ketidakamanan dan ketidaknyamanan dalam membeli barang/memilih layanan jasa. Saya tidak pernah tertipu, kecewa, ataupun keracunan makanan akibat salah beli. Alhamdulillah.

Jadi sebenarnya menjadi konsumen cerdas di era digital itu tidaklah berat. Buktinya, saya bisa melakukannya.

Nah, sekarang bagaimana dengan Anda? Jika punya tips-tips jitu seputar menjadi konsumen cerdas di era digital mari saya undang Anda untuk berbagi melalui kolom komentar. Semoga itu akan memberikan manfaat bagi para pembaca.

- by

20 comments:

  1. Keren tipsnya Mas, lengkaaap!
    Tentang testimoni, saya selalu dulukan. Jadi saat pilah pilih barang/jasa saya selalu meninjau ulasan dan rating yang diberikan. Dan selama ini sangat membantu. Misalnya, saat memilih hotel lewat situs pemesanan online, saya cek rating dan ulasan yang diberikan. Kalau rating tinggi dan review oke..berarti bisa pilih ini. Dan, so far belum pernah kecewa. Begitu juga untuk pembelian barang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Dian sudah mampir.

      Kehadiran fasilitas pembelian dan pemesanan secara online memang sangat membantu ya Mbak, cocok banget dengan kecenderungan dan kebutuhan kita di era digital.

      Delete
  2. sejajar
    saya sepakat dengan hubungan ini mas
    paling tidak, keduanya sangat bersimbiosis
    kalau sudah langganan dan menjadi mitra yang baik, maka tak hanya penjual namun konsumen juga akan percaya
    di zaman medos sekarang sebenarnya kita sangat dimudahkan untuk menjadi konsumen atau penjual
    tinggal pinter2nhya kita dalam memilih dan memilah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mas Ikrom sudah mampir ke postingan saya yang sederhana ini.

      Media yang ada sekarang memang cukup membantu, tapi terkadang juga ini masih membikin konsumen takut-takut.

      Kasus Acho kemarin membuktikan hal itu. Konsumen malah terancam dikriminalisasi.

      Untuk saat ini saya kira yang sudah cukup efektif adalah fasilitas review di beberapa situs pembelian online.

      Delete
  3. Setuju sama tipsnya Mas. Gak pernah lagi2 belanja dalam keadaan lapar karena jadi semua barang yang bukan kebutuhan di beli karena keinginan, lapar perut jadi lapar mata juga haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah pengalaman banget nih kayaknya Mbak Tetra😁😝

      Delete
  4. Sebenarnya simbiosis mutualisme, cuma kadang penjualnya gak enakin sikafnya dan kadang pembelinya yang tak tahu diri

    # Pengalaman di paksa beli CD padahal baru nanya harga kala itu, lagi apes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pedagang2 kecil kadang memang sering bersikap seperti itu, agak memaksa. Tapi biasanya, kalau mereka tidak berubah, alamlah yang akan menyeleksi mereka. Mereka bakalan ditinggalkan oleh pembeli, bahkan sangat dihindari. Karena biar bagaimanapun, pembeli juga membutuhkan kenyamanan dalam berbelanja.

      Makasih Mas Idris sudah mampir dan membaca ulasan ini.

      Delete
  5. Mantap dah mas Aziz sharingnya
    sebagai konsumen memang harus cerdas jg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Bro Adi. Makasih sudah mampir dan membaca ulasan sederhana ini.

      Delete
  6. Sebagai konsumen kita jangan mudah tergiur diskon. Harus cerdas memilih produk dari marketplace yang dapat dipercaya. Belanja sesuai kebutuhan.
    lengkap banget tulisannya, mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak Rochma. Terkadang diskon2 yg dipromokan luar biasa menggoda. Hanya akal sehatlah yang bisa jadi remnya.

      Makasih sudah berkunjung, Mbak.

      Delete
  7. bener memiliki hubungan baik dgn penjualnya emang bnyk untungnya selain bisa ngutang hehe... dan waktu ada isu telur palsu saya sih tetep beli krn percaya sma penjualnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Iya Bung. Bisa jadi solusi ketika dompet sedang mepet saldonya. Kepercayaan antara konsumen-penjual memang menjadi inti dalam hubungan transaksional ini.

      Delete
  8. Terimakasih,mas.
    Sharing tips belanja online bermanfaat untuk berbelanja selanjutnya.

    ReplyDelete
  9. Hak hak konsumen dan kewajiban pelaku usaha. Menarik sekali.
    Nah sebagai konsumen harus memnuhi hak-hak tersebut, sebenarnya itu bukan hak ya tapi kewajiban konsumen.
    Lima poin sebelum memberi barang, bisa menjadi acuan saat belanjan online.

    ReplyDelete
  10. memang ya kesadaran hak konsumen di Indonesia masih sangat rendah, saya jadi ingat beberapa kasus di luar negeri, mungkin mas nya pernah baca atau tahu, ada yang menggugat kfc atau mcd (saya lupa) karena yang jumlah yang dipesan tidak sebanyak yang terlihat di iklannya sendiri, sampai di pengadilan dia menang, dan gerai tsb membayar denda ke si penggungat

    ReplyDelete
  11. Mantap, membantu..
    Memang gitu sih, membeli sesuai kebutuhan bukan keinginan. Dan testimoni itu menurutku juga penting. Jadi setidaknya tahu respon dari orang yang sudah beli juga.

    ReplyDelete

Tentang

Priamuda.com adalah situsblog yang lima puluh persen sahamnya dimiliki oleh pribadi dan lima puluh persennya lagi dimiliki oleh publik. Membicarakan tentang hal-hal privat dan juga publik. Konten dalam situsblog ini lima puluh persen obyektif dan lima puluh persennya lagi subyektif. Seratus persen nonalkohol. Deskripsi situsblog kami memang terkesan aneh. Anda tidak akan menemukan deskripsi sejenis, di mana pun.

Vivalog